Kontak UKM Swagayugama

Sekretariat : Ruang Kesenian Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada

                    Jalan Pancasila 1 Bulaksumur Yogyakarta 55281

                   call43 +6285643638395 (a.n. Bowo)

                   social122 UKM Swagayugama

                   social136 @ukm_swagayugama

                   social113 @cid1511y

                   email ukm.swagayugama@ugm.ac.id

                   social135 UKM Swagayugama

.

.

.

Icons made by Alessio Atzeni from www.flaticon.com is licensed by CC BY 3.0

Workshop Kesenian “Menyadari Peran Sebagai Pemuda Pelaku Budaya”

     Tak dapat memungkiri jika UKM Swagayugama sering menerima tawaran peye (istilah khusus yang merujuk kepada tawaran pentas dari sebuah acara – pernikahan, seminar, dll.) yang disepakati bersama dalam forum pengurus harian. Forum pengurus harian adalah forum organisasi formal yang harus ada di setiap Unit Kegiatan Mahasiswa, dalam hal ini berfungsi sebagai pengelola kegiatan mahasiswa. Terdapat beberapa bidang di UKM Swagayugama seperti: tari, karawitan, kostum, sumber daya mahasiswa, hubungan masyarakat, produksi dan pementasan, riset, dokumentasi, yang keseluruhannya dikemudikan oleh ketua umum yang dipilih dalam musyawarah anggota di akhir tahun. Terkait dengan peye, pengurus sudah menyepakati dan tertuang dalam AD/ART UKM, ini diputuskan bersama. Sehingga peye dapat dikatakan sebagai agenda wajib.

     Beberapa waktu lalu, UKM Swagayugama menampilkan satu jenis tari klasik gaya Yogyakarta bernama Golek Ayun-Ayun yang ditarikan dalam acara fakultas di Universitas Gadjah Mada. Tiga orang penari bersiap ditemani official yang akan berususan dengan panitia penyelenggara, mereka masuk ke dalam ruang ganti. Para penari berdandan seperti dengan ketentuan yang diketahui, mereka percaya bahwa pakem busana adalah yang mereka pakai saat itu. Di antara anggota UKM Swagayugama saat itu tidak ada yang menyanggah karena memang tidak ada yang perlu disanggah. Tiba waktu acara, mereka naik panggung  dilihat oleh mahasiswa-mahasiswa baru angkatan 2016 yang masih dalam rangkaian PPSMB (Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru) menggunakan almamater kebanggan UGM. Sepuluh menit berlalu, mereka turun dan segera berganti pakaian menggunakan pakaian santai, mereka pulang dengan mengantongi bayaran.

     Ini dirasa cukup sering dalam setiap tahunnya hingga kewalahan. Seakan sudah menjadi hal yang lumrah melakukan beragam pementasan, sebenarnya ada hal yang bergeser ketika melihat tari klasik sebagai identias yang sarat dengan nilai tradisi diguanakan sebagai entertainment. Apa yang dinamakan tradisi –biasanya berkaitan dengan istilah ‘Adi Luhung’- berasal dari masa lampau yang jika kita masih merasakannya sekarang pasti ada yang menjaga. Berbagai macam tradisi di Yogyakarta lebih cenderung merujuk kepada budaya kerajaan Mataram Islam, ketika itu Yogyakarta memilih untuk melestarikan daripada mengembangkan. Hal ini ditengarai dengan hadirnya seni tari dan karawitan yang berkembang di kerajaan Mataram Islam. Melalui falsafah Hamemayu Hayuning  Bawono, semangat melestarikan dan menyelaraskan tata nilai kehidupan menjadi dominasi filosofis dalam pembangunan berkelanjutan. Kemudian falsafah itu digunakan oleh masyarakat Yogyakarta dalam kaitan penciptaan tari klasik dan karawitan gaya Yogyakarta pada periode setelah perjanjian Giyanti.

     Tahta yang sekarang dipegang oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan sedikit banyak gambaran periode kekuasaan yang sangat lama, tentunya semangat menciptakan karya seni baru muncul dari raja yang pernah berkuasa. Raden Mas Sujana mengawali pementasan wayang wong (wayang orang) secara massal dengan mengambil lakon “Gondowerdoyo”. Pertunjukan tari klasik atau disebut dengan Joged Mataraman juga difungsikan sebagai hiburan bagi masyarakat yang jenuh oleh peperangan selama 9 tahun (Suryobrongto, 1981: 30). Memasuki pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II lahir Bedhaya Semang yang disebut sangat sakral yang diikuti dengan penciptaan tarian bermotif kepahlawanan. Namun sampai pada periode Sultan Hamengku Buwono III, pembatasan ruang gerak kesenian sultan sangat terbatas oleh Belanda sehingga tidak terjadi perkembangan dari beragam tarian yang telah terbentuk.

     Banyak raja menciptakan tari dengan mengambil aspek politik jamannya dengan menggunakan atribut bernada sama misalnya menggunakan pistol atau jemparing (panah). Hanya saja karena tindak represif dari pemerintah Belanda yang cukup merugikan sampai pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VI, banyak kreasi Joged Mataram yang mandek. Tercatat bahwa puncak kejayaan Joged Mataram ada di masa Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939) ada 11 kali pementasan wayang wong sejak tahun 1923 hingga Agustus 1939, pementasan terakhir dengan lakon Pragolomurti (Suryobrongto, 1981: 46-47). Inovasi yang kemudian berkembang di sini salah satunya adalah penggunaan alat musik tiup diatonik Barat dengan iringan gamelan pengiring laras pelog.

     Pergantian kekuasaan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX dikatakan oleh Budi (1996) sebagai periode baru pengembangan Joged Mataram. Hal ini dimulai sejak Rama Sas (K.R.T. Sasmintadipura) bekerjasama dengan Raden Mas Dorodjatun merespon Joged Mataram menjadi sebuah cultural resource. Selama kolonialisasi terjadi, Joged Mataram hanya difokuskan untuk dipelajari oleh orang-orang di dalam Kraton. Pada tahun 1950, G.B.P.H. Pujokusuma (saudara laki-laki Rama Sas) mendapat mandat dari Sultan untuk menggerakkan aktivitas tari ke luar tembok Kraton dengan medirikan “Bebadan Among Beksa Yogyakarta” yang saat ini dikenal sebagai “Yayasan Siswa Among Beksa”. Dengan berkembangnya kelompok-kelompok tari binaan guru dari keluarga Kraton, kesempatan untuk mempertunjukkan kepada turis menjadi fungsi baru dalam perkembangan Joged Mataram, pada tahun 1977 panggung pertunjukan tari difokuskan untuk disajikan kepada turis (Hadi, 1988: 96). Sejak saat itulah pergeseran fungsi tari menjadi lebih luas karena ditampilkannya berbagai jenis tari di lokasi yang berbeda-beda di berbagai kota di Indonesia sampai ke wilayah Asia juga Eropa. Dengan konsep “Adi Luhung” yang dibawa oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, proses pembangunan ini mengarah kepada entertainment dalam memenuhi permintahan di situasi yang global.

     Menanggapi perubahan tersebut, UKM Swagayugama di era global ini sangat memenuhi kriteria sebagai pelaku budaya. Peran memanggul cultural heritage Yogyakarta bukan hal mudah. Secara kontinu, UKM Swagayugama mengadakan pelatihan tari klasik dan karawitan gaya Yogyakarta, namun perihal sosialisasi juga menjadi bagian yang tidak kalah menarik. Pada tanggal 29 Oktober 2016 lalu, UKM Swagayugama dengan antusias mengadakan workshop kesenian bertema “Menyadari Peran Sebagai Pemuda Pelaku Budaya” untuk siswa SMA/K se DIY bertempat diruang kesenian Gelanggang Mahasiswa. Menggandeng para pengajar dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, acara berlangsung dalam penyampaian materi dalam dua sesi. Pertama adalah materi yang disampaikan oleh Dr. Bambang Pudjasworo, S.ST., M.Hum., terkait dengan peran pemuda dalam konservasi budaya yang mengarah kepada diplomasi budaya ke dunia internasional. Peserta diajak menyelami berbagai referensi kreatif dalam model baru pelestarian budaya, sebab posisi mereka sangat penting. Setelah wacana umum digambarkan, peserta diarahkan ke dalam dua kelas, kelas pertama khusus bidang tari yang diisi oleh Theofillus Suwantoro, S.Pd. dan Dra. Veronica Retnaningsih, sedangkan kelas kedua adalah karawitan yang diisi oleh Drs. Trustho, M.Hum. dan Muclhas Hidayat, S.Sn. Hampir dua jam materi disampaikan, melakukan praktek dan mengadakan sesi pertanyaan. UKM Swagayugama merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa yang juga berisi pemuda, kami melakukannya sekarang, lantas kapan kalian akan melakukannya?

Cek kabar workshop di sini! 

Referensi:

Astuti, Budi. 1996. K.R.T.Sasmintadipura Koreografer Tari Jawa dalam menghadapi berbagai tantangan zaman (Sebuah Biografi), Tesis S-2, Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Suryobrongto, G.B.P.H. 1981. Sejarah Tari Klasik Gaya Yogyakarta dalam Fred Wibowo (Ed.), “Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta”. Yogyakarta: Dewan Kesenian Prop, DIY.

___________. 1981. Wayang Wong Gagrag Mataram dalam Fred Wibowo (Ed.), “Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta”. Yogyakarta: Dewan Kesenian Prop, DIY.

 

Swaga on Vacation – Merasakan air nan segar dan hikayat

Tampak candi yang tidak lengkap bagian-bagiannya
Tampak candi yang tidak lengkap bagian-bagiannya
Perjalanan menuju Candi Lumbung
Perjalanan menuju Candi Lumbung

Air terjun Kedung Kayang

Ada kejadian menarik. Waktu itu, salah seorang dari peserta SOV marah-marah. Bukannya apa-apa, tapi karena ia merasa khawatir dengan ulah seorang yang semena-mena mau menyebrang jalan. Orang yang memakai motor tanpa lampu riting tersebut ingin belok kanan menyebrang jalan untuk mengantar gergaji mesin yang ditaruh dalam kronjot. Dalam bahasa Indonesia kronjot sejenis anyaman yang berfungsi untuk menaruh barang atau dagangan yang ditaruh di motor. Biasanya kronjot dibuat dua di sisi kanan dan kiri, dan tentunya lebih besar dari badan motor itu. Sewaktu kita melewati jalan tersebut, tiba-tiba saja kami terhenti dengan kejadian tersebut. Salah satu anggota Swaga memarahi pengendara karena sudah tidak riting, tidak memakai helm, membawa gergaji mesin dalam kronjot tanpa pengaman yang sebenarnya membahayakan jika jatuh dan mengenai pengendara lain. Tidak terlalu lama kejadian tersebut karena memang sudah di tunggu oleh rekan kami di Candi Asu, Magelang, Jawa Tengah. Perjalanan yang kami tempuh dua jam lalu dari pukul 07.00 WIB membuat kami semakin penasaran dengan Candi Asu tersebut. Apakah memang bentuknya mirip dengan asu atau anjing, atau memang bagaimana?

Kegiatan rutin ini memang selalu kami laksanakan setiap tahun. Tepat 7 tahun yang lalu, segerombolan orang yang ingin belajar budaya Jawa khususnya Yogyakarta ini juga mengunjungi situs yang bernama Candi Asu, dan beberapa diantara mereka juga hadir disini. Panas terik nan elok dengan pemandangan petak-petak sawah membuka pertanyaan ‘mengapa’ orang zaman dulu membuat candi di lereng dekat sungai yang dinamakan Candi Asu Sengi ini. Sengi, karena daerahnya di desa Sengi. Asu? Konon, candi tersebut ditemukan karena banyak anjing yang mengitari atau berada di candi yang saat ini sudah tidak terdapat atapnya dan tinggal fondasi saja sekitar 2,5 meter. Sebenarnya ada beberapa versi, ini menjadi mitos masyarakat lokal untuk menjaga nilai-nilai leluhur mereka. Candi tersebut memiliki sumur kurang lebih sedalam 5 meter. Dalam diskusi kami, beberapa teman merasa aneh dengan sumur tersebut sebab daerah tersebut tidak jauh dengan sumber mata air, lantas mengapa dibuat sumur jika masyarakat dapat mengambil air dari sungai didekatnya. Atau mungkin hanya masyarakat saja yang mengada-ada tentang sumur tersebut. Ini menjadi persoalan yang harus dibahas oleh pakarnya, dan bagi kami sebagai apresiator setidaknya mempertanyakan apa yang umum dipertanyakan.

Tak jauh dari candi tersebut, sebenarnya terdapat candi lain yaitu Candi Pendem. Berbeda dengan yang berada di Ngawi, bebatuan candi di sini masih dapat disusun dengan baik di banding dengan Candi Pendem Ngawi yang sudah diamankan di cagar budaya. Cukup berjalan tidak lebih dari 500 m, kami sempat kesusahan untuk menemukannya. Susah untuk dilihat dari jauh karena selain di tengah persawahan, juga posisinya yang terpendam di bawah tanah mirip seperti Candi Sambisari Yogyakarta. Aktivitas pertanian di lereng gunung merapi membuat indah candi tersebut ketika kita bisa menatap tumbuh-tumbuhan hijau yang mengelilingi wilayah candi. Sampai pada candi selanjutnya pun kami masih menemukan keelokan lainnya. Info yang muncul setelah kami beranjak pada candi selanjutnya yaitu Candi Lumbung tersebut akan dipindah ke tempat awal.

Pemerintah sengaja memindahkan Candi Lumbung untuk menyelamatkan cagar budaya tersebut dari terjangan banjir lahar hujan di Kali Apu. Di lokasi aslinya, candi ini berada di atas tebing dan hanya berjarak kurang dari 1 meter dari Kali Apu. (Tribun, Februari 2015).

Pemindahan yang dilakukan secara bertahap pada september 2011 lalu hanya sekedar untuk menyelamatkan bangunan candi dengan menyewa tanah di Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan. Tetapi hal yang menjadi permasalahan adalah bahwa candi tersebut akan kehilangan sejarahnya karena lokasi yang tidak sama dari lokasi sebelumnya yang berjarak lebih kurang 5 km dari keberadaan candi saat ini. Meskipun demikian, kondisi disana begitu bersih dan terawat. Sejak awal kami mengunjungi candi, kami bangga karena kompleks yang bersih ditambah kami tidak perlu mengeluarkan kocek untuk menikmati situs tersebut.

Tidak jauh berbeda dengan anak muda sekarang, kami juga ingin bersenang-senang di air. Kami mengunjungi air terjun Kedung Kayang yang tidak jauh dari obyek wisata Ketep Pass. Selama bermain, sebenarnya kami dihimbau untuk segera pulang karena mendung telah memadati area kami bermain. Sebenarnya petugas sudah menghimbau untuk was-was, karena jika terjadi hujan yang turun dari atas gunung biasanya akan terjadi longsorang tanah-tanah yang kemudian terbawa arus air hingga mengalir melewati air terjun tersebut. Ditakutkan pengunjung akan terjebak di sekitar air terjun, oleh karenanya kita harus was-was. Walau alam terlihat indah tetapi bisa saja menjadi ancaman bagi orang yang tidak kenal lingkungan. So, inilah SOV kami, tunggu SOV selanjutnya ya.

Referensi:

http://www.tribunnews.com/travel/2015/02/05/rawan-diterjang-banjir-candi-lumbung-di-magelang-sulit-dikembalikan-lokasi-aslinya

PPSMB Palapa dan Swagayugama

Selamat malam pencinta budaya! 😀 Sekarang sedang masa-masa pasca-euphoria ospek Universitas nih, PPSMB (Pelatihan Pembelajaran Sukses Mahasiswa Baru) Palapa. PPSMB Palapa kali ini mengusung tema Integrasi Keilmuan dalam Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN dengan Semangat Nilai Pancasila. Setelah membentuk formasi iconic pada tahun-tahun sebelumnya mulai dari Kepulauan Indonesia, Bendera Merah Putih, Garuda Pancasila, kali ini, GAMADA membuat formasi logo ASEAN.

ini dia!

ASEAN PALAPA
diambil dari akun Twitter resmi PPSMB UGM

Keren ya? Haha. Kalau melihat foto formasi, mimin jadi ingat kala itu membuat formasi Bendera Merah Putih (ketahuan deh angkatan berapa) haha.

Tahun ini, UKM-UKM tingkat universitas kembali diberikan kesempatan untuk memeriahkan baik pembukaan dan penutupan PPSMB Palapa, salah satunya adalah UKM Swagayugama yang tampil ketika penutupan tadi sore.

Swagayugama menampilkan Beksan Menak Kakung Jayengrana >< Kelanjejali oleh Adven Risang Priyambada FMIPA 2011 sebagai Jayengrana dan Seta Wikandaru PSA 2013 sebagai Prabu Kelanjejali. Beksan ini diambil dari Serat Babad Menak yang menceritakan tentang peperangan antara Jayengrana dari Negari Koparman dan Prabu Kelanjejali dari Negari Kelan. Pada peperangan ini, Prabu Kelanjejali kalah sehingga Negari Kelan menjadi negara taklukan Negari Koparman (kemudian cerita ini berlanjut hingga Negari Kelan bersekutu dengan Negari Koparman melalui pernikahan Jayengrana dengan putri mendiang Prabu Kelanjejali, Dewi Kelaswara etc. etc.).

Super sekali ceritanya, tetapi mimin masih pusing, belum tahu garis cerita dari Serat Babad Menak. hehehe

Check these out!

Jayengrana
Jayengrana
Kelanjejali
Prabu Kelanjejali
DSC_4805e
DSC_4818e Terlihat mesra? Eits, ini masih adegan perang. Setelah ini, Prabu Kelanjejali memukul Jayengrana!!

DSC_4820eDSC_4834e

Bagaimana? Menarik bukan? Hehehe

Ketemu lagi di postingan selanjutnya ya! Salam budaya! 😀

Terima kasih banyak kepada Mas Hardian dari UKM UFO (Unit Fotografi) UGM yang telah mengabadikan momen ini 🙂

(re: mahfudz)

Penerimaan Anggota Baru 2015!!

11026297_899940460078845_181623111803404929_n

Selamat pagi pencinta budaya! Halo teman-teman mahasiswa Universitas Gadjah Mada!

UKM Swagayugama membuka kesempatan kepada teman-teman untuk bergabung menjadi anggota 🙂 🙂 🙂 UKM Swagayugama (Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Jawa Gaya Yogyakarta Universitas Gadjah Mada) merupakan UKM yang mempelajari kesenian Jawa Gaya Yogyakarta khususnya tari dan karawitan klasik gaya Yogyakarta (info lebih silakan klik di sini)

Bagaimana caranya?

Teman-teman hanya perlu memenuhi persyaratan:
– mahasiswa UGM
– mengisi dan mengumpulkan formulir (formulir dapat diambil di tempat pendaftaran)
– menyerahkan pas foto ukuran 3×4
– membayar biaya pendaftaran Rp15.000,-

Pendaftaran dapat dilakukan pada:
¤ tanggal 24 Agustus – 2 September 2015 pukul 15.00 – 19.00 di Ruang Kesenian Gelanggang Mahasiswa
¤ tanggal 3 – 5 September 2015 di stand Swagayugama Gelanggang Expo

Mumpung masih di Jogja, pelajari budayanya (^-^)

Sampai bertemu di Gelanggang! cheers

(re: angel & mahfudz)

UKM Swagayugama menyelenggarakan Diskusi Budaya

IMG_0645

Yogyakarta-Swaga. Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) Swagayugama menyelanggarakan diskusi budaya dengan tema “Mengenal Wayang Wong” pada tanggal 19 April 2015 kemarin. Diskusi ini diikuti oleh 17 orang ini yang terdiri dari anggota UKM Swagayugama dan masyarakat umum. Penyelenggaraan diskusi ini bertujuan untuk mengenalkan kembali mengenai wayang wong, seperti sejarah perkembangan, etika, kostum-kostum, dan perkembangan seni tari wayang wong gaya Mataraman pada masa sekarang ini. Penyelanggaran diskusi budaya ini merupakan kegiatan rutin yang akan diadakan oleh UKM Swagayugama dengan target peserta diskusi tidak terbatas pada kalangan UKM Swagayugama, akan tetapi semua kalangan.